Produktivitas Nyaris Dua Kali Lipat, PM-AAS Indramayu Tembus 12,35 Ton/Ha
2026-08-26 09:36:13 M. Digi
Jakarta – Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) mencatat produktivitas padi hingga 12,35 ton per hektare di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, meningkat tajam dibandingkan produktivitas sebelumnya yang berada pada kisaran 6–7 ton per hektare. Pada saat yang sama, penerapan PM-AAS di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, mampu mempertahankan produktivitas 10,2 ton per hektare di tengah cekaman kekeringan serta tekanan hama dan penyakit.
Hasil panen di dua wilayah tersebut memperlihatkan dua capaian berbeda dari penerapan pertanian modern. Di Indramayu, PM-AAS menunjukkan potensi peningkatan produktivitas yang signifikan, sementara di Soppeng produktivitas tetap berada di atas 10 ton per hektare meskipun pertanaman menghadapi kondisi musim yang lebih menantang.
Di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, panen PM-AAS dilaksanakan pada lahan seluas 10 hektare milik Kelompok Tani Tani Makmur. Berdasarkan hasil ubinan BPS Kabupaten Indramayu, produktivitas tertinggi mencapai 12,35 ton per hektare.
Angka tersebut jauh di atas produktivitas sebelumnya yang berkisar 6–7 ton per hektare. Jika dibandingkan dengan batas atas produktivitas sebelumnya sebesar 7 ton per hektare, capaian 12,35 ton per hektare menunjukkan peningkatan sekitar 76 persen.
Sementara itu, panen PM-AAS di Lajaroko, Kelurahan Manorangsalo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, pada Rabu (19/8), mencatat produktivitas 10,2 ton per hektare dari areal seluas 20 hektare.
Capaian tersebut relatif terjaga dibandingkan musim tanam sebelumnya yang mencapai 10,4 ton per hektare. Hasil ini menjadi penting karena pertanaman berlangsung pada musim kemarau pertama dengan cekaman kekeringan serta intensitas serangan hama dan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya.
Capaian produktivitas di Indramayu dan Soppeng sejalan dengan hasil uji penerapan PM-AAS yang sebelumnya dilakukan Kementerian Pertanian di berbagai wilayah. Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman PM-AAS berpotensi untuk meningkatkan produktivitas secara konsisten sehingga penerapannya terus didorong, terutama pada wilayah dengan dukungan irigasi yang memadai.
“Metode PM-AAS ini sudah kita uji coba di 1.600 hektare. Produksinya ada yang 10 ton, bahkan mencapai 12 ton. Minimal 9 ton per hektare. Sekarang kita dorong diterapkan di daerah-daerah irigasi agar produktivitas meningkat signifikan,” ujar Mentan Amran.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry mengatakan hasil tersebut menunjukkan potensi PM-AAS ketika berbagai komponen teknologi diterapkan secara terpadu dan disesuaikan dengan karakteristik wilayah.
“Capaian panen di berbagai daerah menunjukkan bahwa PM-AAS mampu memberikan hasil yang sangat menjanjikan. Ini membuktikan bahwa ketika teknologi budidaya, mekanisasi, pengelolaan hara dan air, serta pendampingan petani diterapkan secara terpadu dan sesuai dengan karakteristik wilayah, produktivitas dapat ditingkatkan secara signifikan,” ujar Fadjry.
PM-AAS mengintegrasikan berbagai komponen produksi, mulai dari pengelolaan budidaya, hara dan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, mekanisasi, pemanfaatan data dan teknologi informasi hingga pengelolaan panen dan pascapanen.
Menurut Fadjry, pendekatan tersebut membuat modernisasi pertanian tidak semata-mata ditentukan oleh penggunaan teknologi yang semakin canggih, melainkan ketepatan dalam memilih dan mengombinasikan teknologi sesuai kebutuhan di lapangan.
“Modernisasi bukan tentang teknologi yang paling canggih, tetapi tentang kombinasi teknologi yang paling tepat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pada kondisi tertentu,” katanya.
Data panen Soppeng sekaligus menunjukkan bahwa produktivitas tinggi perlu dilihat bersama kemampuan sistem budidaya menghadapi tekanan lingkungan. Produktivitas 10,2 ton per hektare hanya turun 0,2 ton per hektare dibandingkan musim sebelumnya yang mencapai 10,4 ton per hektare, meskipun menghadapi kekeringan serta tekanan hama dan penyakit yang lebih tinggi.
Bupati Soppeng Suwardi Haseng berharap penerapan PM-AAS di wilayahnya dapat menjadi model pengembangan pertanian modern yang dapat diperluas.
“Saya berharap bahwa dari sawah di Lajaroko ini lahir pertanian modern yang nanti bisa dicontoh daerah lain,” ungkap Suwardi.
Hasil penerapan PM-AAS juga dirasakan petani. Amran, Ketua Kelompok Tani Adiange, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, mengatakan hasil panen dengan metode tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan metode budidaya yang sebelumnya diterapkan.
“Sehingga kami berharap program ini dapat terus berlanjut, supaya bisa dirasakan semua petani, khususnya di Kabupaten Soppeng, bahkan di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Fadjry menegaskan setiap penerapan PM-AAS di daerah juga digunakan sebagai proses pengujian dan penyempurnaan teknologi. Hasil di lapangan akan diukur dan dievaluasi sebelum model yang sesuai direplikasi pada skala yang lebih luas. Ia menambahkan, kedepannya PM-AAS diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi petani.
Dengan capaian 12,35 ton per hektare di Indramayu dan 10,2 ton per hektare di Soppeng, hasil lapangan tersebut menunjukkan potensi PM-AAS pada kondisi wilayah yang berbeda. Kementan akan terus mendorong pengembangan pertanian modern melalui inovasi teknologi, pendampingan serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, penyuluh dan petani untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi dan pendapatan petani sekaligus memperkuat swasembada pangan berkelanjutan.